Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, March 11, 2015

LIMA PULUH MENIT

         Gita menelusuri lorong pesawat besar yang dinaikinya untuk kembali ke kota di mana ia tinggal selama sepuluh tahun terakhir. Ia bersama guru-guru dan teman-teman seangkatannya baru saja menyelesaikan perjalanan wisata di akhir tahun ajaran dan akan kembali malam ini, disaat gerimis turun. Wajah-wajah temannya terlihat lelah dan mengantuk. Ia pun merasa begitu. Selama sembilan puluh menit perjalanannya nanti, ia berencana untuk tidur di bangkunya dan tidak akan bercerita dengan teman sebelah, siapa pun teman duduknya.
Gita yang menyandang ransel dan menggandeng satu kardus kecil oleh-oleh untuk keluarganya di rumah terus berjalan sambil melihat nomor yang tertera di bawah kabin pesawat. Berdasarkan tiket yang diterimanya, ia duduk di seat 22A. Begitu ia menemukan nomor yang tertera pada tiket, Gita langsung menaruh bawaannya di dalam kabin dan duduk nyaman di paling ujung, dekat jendela kecil pesawat. Dua bangku di sebelahnya masih kosong. Ia tidak langsung menutup mata. Gita hanya menoleh-noleh ke depan belakang dan ke kanan, melihat-lihat siapa saja yang ada di sekitarnya.
Defy, teman satu kamarnya selama perjalanan wisata seminggu kemarin, duduk berjarak dua deret bangku di depannya. Gita ingin sekali bertukar tempat duduk dengan seseorang di sana, tapi tubuhnya lelah sekali dan ia tidak ingin berdiri lagi. Akhirnya ia duduk diam, melihat wajah-wajah temannya yang lewat melihat nomor seat yang ada di bawah kabin.
Belum juga ada yang datang untuk duduk di seat 22B dan 22C, bangku di sebelahnya. Gita memperhatikan wajah lelah teman-temannya yang lewat. Mereka sudah ada di bandara sejak empat jam yang lalu, menunggu keberangkatan yang ternyata didelay. Padahal malam harinya mereka hanya tidur beberapa jam karena baru sampai di hotel lewat pukul satu dini hari. Pagi harinya langsung jalan-jalan, mengunjungi tempat tujuan terakhir dan langsung menuju bandara dengan buru-buru.
Perut Gita berbunyi. Ia baru ingat kalau sejak pukul empat tadi ia belum makan apa-apa. Persediaan makanan yang ada di ranselnya sudah habis. Sebotol air mineral pun tidak ada. Gita menarik nafas panjang, berharap perjalanannya tidak akan terasa lambat dan ia bisa sampai rumah secepatnya. Yang ada di dalam pikirannya hanya makan, minum, tidur, dan mandi. Badannya sudah terasa lengket karena berkeringat saat jalan-jalan tadi.
Ryan yang bertubuh tinggi berjalan di antara deretan bangku-bangku, melihat nomor seat di bawah kabin. Sambil menyandang ransel dan menggenggam ponsel serta tiket, matanya liar melihat nomor-nomor yang tertera. Ia ingin melangkah lebih cepat, tapi orang-orang yang ada di depannya menghalang, membuatnya tidak bisa leluasa melangkah.
Ryan hampir tiba di deretan bangkunya. Begitu melihat nomor di tiketnya sama dengan nomor yang tertera di bawah kabin, ia melihat ke arah deretan bangku itu. Rasanya ia ingin sekali berteriak. Ia tersenyum samar, menyembunyikan rasa girangnya. Gita akan duduk bersebelahan dengannya. Selama perjalanan wisata seminggu ini, ia banyak beralasan agar bisa terus berada di dekat Gita. Saat makan siang, ia memilih meja yang sama dengan Gita biarpun perempuan itu tidak terlalu menghiraukan. Saat jalan-jalan, membeli oleh-oleh, ia selalu mengikuti Gita dan teman-temannya dari belakang. Satu yang sangat disayangkan olehnya, yaitu bus. Ia tidak satu bus dengan Gita. Tapi hal itu tidak lagi menjadi masalah saat ini. Ia akan duduk di sebelah Gita. Ryan mengucap syukur berkali-kali sambil memasukkan ranselnya ke dalam kabin.
Gita menguap. Ia langsung menoleh begitu sadar ada seseorang yang berdiri di dekat bangkunya. Ryan melihatnya sekilas, lantas mengalihkan pandangan ke kabin. Laki-laki itu langsung memasukkan ranselnya ke dalam kabin dan duduk di sebelah Gita. Perasaan Gita melambung entah ke mana. Ia tidak menyangka akan duduk bersebelahan dengan Ryan, anak juara olimpiade matematika yang diam-diam dikaguminya. Selama perjalanan wisata ini mereka baru sekali bicara, saat Gita meninggalkan dompetnya di sebuah rumah makan tempat mereka makan siang. Gita ingin sekali mengobrol panjang lebar dengan Ryan. Tapi ia merasa tidak penting karena ia selalu berpikiran bahwa tidak mungkin Ryan mengenalnya. Biarpun teman satu sekolah, bisa saja Ryan hanya mengenali wajahnya sebagai teman di sekolah yang sama, bukan mengenali namanya.
Ryan menyandarkan punggung, menyembunyikan rasa gugupnya. Beberapa detik kemudian Indra datang, duduk di sebelah Ryan. Jadilah Gita satu-satunya perempuan yang ada di deretan itu. Indra langsung menutup matanya biarpun pesawat belum lepas landas. Ryan tidak punya teman bicara, dan apa yang dilakukannya jadi serba salah.
“Git, tolong ambilkan majalah itu dong.” Kata Ryan cepat. Suaranya bergetar. Ia menunjuk sebuah majalah yang terselip di depan bangku Gita.
Gita terkejut namanya dipanggil. Ia langsung mengambil majalah yang ditunjuk dan memberikannya pada Ryan sambil bersorak girang dalam hati karena ternyata Ryan mengenalnya, mengetahui namanya. Gita menoleh ke luar melalui jendela kecil pesawat. Ia merasa salah tingkah jika di dekat Ryan. Bahkan suaranya tidak bisa keluar.
Thank’s.” Ujar Ryan kemudian.
Gita mengalihkan pandangannya sebentar, melihat wajah laki-laki itu sekilas. “Sama-sama.” Jawab Gita gugup. Ia kembali menatap ke luar.
Pesawat mundur dengan pelan. Pramugari sudah mulai mengoceh, memberikan petunjuk keselamatan dan sebagainya. Gita tidak bisa konsentrasi mendengar kalimat-kalimat pramugari itu meskipun ia sudah hafal benar apa saja yang disampaikan. Di sebelahnya, Ryan juga sedang memperhatikan peragaan-peragaan yang dilakukan pramugari sementara Indra sudah masuk ke alam mimpi.
Beberapa saat setelah pesawat melaju kencang dan terangkat ke udara, Ryan menoleh ke depan dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan. Gita mengikuti gerakan Ryan, penasaran dengan apa yang dilihat Ryan. Padahal beberapa detik sebelumnya ia masih sibuk melihat ke luar, menatap daratan yang berkerlap-kerlip karena lampu yang berwarna-warni di waktu malam.
“Semuanya langsung tidur.” Gita tertawa pelan.
Ryan menoleh, menatap Gita. Ia tersenyum sambil berkata, “Begitulah. Semuanya kelelahan. Aku juga, tadi malam nggak bisa tidur. Sampai di hotel udah lewat pukul satu. Belum lagi masuk ke kamar dan membongkar barang-barang.”
Gita senang sekali. Rasanya ia ingin berteriak. Akhirnya aku bisa ngobrol panjang lebar dengan Ryan! Gita tidak menyangka Ryan akan membuka pembicaraan dengannya. Di antara orang-orang yang sudah tertidur pulas, Gita dan Ryan mengobrol panjang lebar. Sesekali Ryan membuat lelucon dan teka-teki lucu yang membuat mereka tertawa bersama sambil menutup mulut agar tidak menimbulkan suara keras yang bisa mengganggu teman-teman di sekeliling.
“Lalu kenapa kau tidak tidur saja? Sekali memejamkan mata, pasti langsung tertidur. Kan dari kemarin belum ada tidur?” tanya Gita dengan suara pelan. Ryan sedikit menggeser kepalanya, agar telinganya bisa menangkap apa yang Gita tanyakan.
“Nggaklah. Tadi waktu di bus aku udah tidur. Kau sendiri bagaimana? Kenapa nggak tidur saja?” Ryan balik bertanya.
“Tadinya aku udah berniat untuk tidur. Tapi nggak jadi.”
“Oh... Kenapa?”
“Lapar. Jadi susah tidur.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku ada sedikit roti, mungkin ...” belum sempat Ryan menyelesaikan kalimatnya, Gita memotong pelan. “Nggak usah. Nanti begitu sampai aku juga bisa makan.”
“Nanti sakit perut.”
Gita terdiam beberapa saat. Entah kenapa kalimat yang mungkin biasa Ryan ucapkan pada teman-temannya yang lain itu begitu berharga. Ia tersenyum tanggung dan meraih potongan roti yang diangsurkan Ryan padanya.
“Itu bukan bekas gigitan. Tadi aku potong dikit waktu di ruang tunggu.”
“Terima kasih.” Ujar Gita sambil berusaha mengulum senyum.
Ryan tersenyum. Tiba-tiba lampu kabin berkedip dan pesawat bergoyang, seperti tiba-tiba terjatuh ke bawah. Ryan menatap Gita sekilas. Wajah mereka berdua berubah pucat. Teman-teman lain yang sudah tertidur pulas terbangun begitu saja sambil sibuk menoleh dan bertanya “Ada apa?” pada teman sebelah mereka.
Belum sempat para penumpang mengambil kesimpulan, seorang pramugari langsung berbicara, mengumumkan pada seluruh penumpang untuk menggunakan pelampung yang disediakan di bawah tempat duduk masing-masing karena akan ada pendaratan darurat di laut. Semua tangan dengan gesit meraih dan memakainya, sesuai petunjuk yang telah berulang-ulang mereka lihat dan dengarkan setiap kali naik pesawat. Suasana menjadi panik dan beberapa orang sibuk berdoa untuk keselamatan. Pramugari memandu para penumpang untuk ke luar melalui pintu darurat dan turun menceburkan diri ke laut.
Ryan membantu Gita yang kesulitan mengenakan pelampungnya. “Jangan takut, Gita...” kata Ryan pelan saat melihat wajah Gita yang ketakutan. Tubuh perempuan itu bergetar.
“Aku ...” Gita menangis tiba-tiba. Ia tidak sanggup mengucapkan satu patah kata pun. Ia benar-benar ketakutan dan berdoa berulang-ulang di dalam hatinya.
“Ayo,” Ryan tersenyum kecil. Ia meraih jemari Gita dan ikut berbaris untuk ke luar melalui pintu darurat. Ah, sebenarnya Ryan punya kenangan pahit dengan kecelakaan pesawat yang tidak Gita ketahui. Masa lalu mengenaskan yang membuatnya kehilangan Ayah karena Ryan hanyalah salah seorang diantara sedikit orang yang selamat pada waktu itu.
Ryan masih menggenggam tangan Gita yang dingin dengan erat. Ia menggigit bibir. Satu persatu penumpang sudah berangsur turun. Mereka memang tidak berada di deretan paling belakang untuk turun, tapi Ryan cemas minta ampun. Ia merasa tidak akan sempat turun. Hal yang dipikirkannya sekarang adalah, sebenarnya ada apa dengan pesawat ini? Kerusakan mesin atau apa? Ya Tuhan, Ryan bahkan tidak bisa berenang. Ia takut sekali untuk turun ke laut lepas, tapi ia tidak berani hanya berdiam diri di dalam pesawat.
Gita menatap Ryan, memperhatikan kegelisahan lelaki itu. Gita mulai merasa ada yang melindunginya. “Jangan takut, kau kan pakai pelampung.” Ujar Gita pelan menenangkan. Ia tahu bahwa Ryan tidak bisa berenang. Gita memang benar-benar cocok dikatakan sebagai penggemar rahasia.
Ryan menoleh, terkejut dengan ucapan Gita. Di tengah keributan itu, entah kenapa, rasa cemas yang ada dalam diri Ryan hilang, terusir begitu saja. Ia tersenyum tipis, tapi dalam hati kecilnya, senyumnya sangatlah lebar. Selebar senyuman Gita yang sering diperhatikannya jika ia secara tidak sengaja lewat di depan Gita yang sedang duduk dengan teman-temannya.
***
Ryan dan Gita ditemukan selamat bersama beberapa penumpang lainnya tidak lama setelah pesawat yang mereka tumpangi dikabarkan jatuh di laut lepas. “Hei coba tebak, kita ada di dekat pulau Jawa atau Sumatera?” Ryan mencoba menghangatkan suasana.
Gita tersenyum getir. Ryan masih menggenggam tangan Gita, dan sejak mereka turun ke air, Ryan tidak pernah melepaskan genggaman itu. Lihatlah sekarang, mata Gita sudah mulai redup, dan wajahnya pucat sekali. Ryan merapatkan selimut yang diberikan oleh tim pencari yang menyelamatkan mereka. Ia juga sebenarnya hampir hilang kesadaran. Tapi hatinya merasa harus terus terjaga untuk perempuan yang ada di sebelahnya itu.
***
Suatu pagi di tahun ajaran baru, Gita menelusuri koridor sekolah. Ia berjalan sendiri sambil menggenggam buku-buku pelajaran yang baru dibagikan. Gita hendak menaruh semua itu di lockernya saat ia sadar bahwa Ryan juga sedang berjalan sendiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil menyandang tas.
Ryan yang baru sadar akan berpapasan dengan Gita mulai salah tingkah. Ia tidak tahu harus menyapa atau tidak. Harus buang muka atau sekedar tersenyum. Sejak mereka di bawa ke rumah sakit terdekat setelah kecelakaan pesawat itu, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.
Langkah Gita semakin cepat, dan jaraknya dengan Ryan tidak lagi jauh. Beberapa detik lagi ia akan berpapasan dengan Ryan. Ia berfikir akan menyapa Ryan saja, karena ia merasa semenjak kecelakaan itu, mereka sudah menjadi teman baik. Tapi niatnya berubah kurang dari satu detik kemudian.
Ryan dan Gita berpapasan di koridor sekolah dengan pandangan yang saling bertemu. Karena salah tingkah, keduanya tidak saling menyapa, tidak saling tersenyum. Dan akhirnya, mereka malah mengalihkan pandangan. Sejak awal Gita sudah merasa ada yang salah dengan dirinya karena menyukai Ryan yang memang idola perempuan satu sekolah. Gita tidak tahu, bahwa sebenarnya Ryan yang pemalu diam-diam juga menyukainya.
Gita berpikir, setidaknya ia mempunyai kenangan kecil bersama Ryan. Lima puluh menit selama pesawat mengudara saat itu adalah kenangan yang benar-benar berarti. Gita tersenyum samar sambil terus melangkahkan kaki. Ketika ia berbelok di ujung koridor, Ryan menoleh dan tersenyum kecil, seolah menjawab senyuman samar perempuan itu.

Usy  Izzani Faizti
dipublikasikan oleh Xpresi Riau Pos
Februari 2015

Sunday, January 5, 2014

GURU BAK PELITA


Kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu, dari siapa
Kita jadi pintar dididik pak guru
Kita jadi pandai dibimbing bu guru
Gurulah bak pelita, penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara
Alunan lembut musik dan suara kelompok paduan suara terus mengalir merdu, terasa seperti embun yang menyejukkan. Dhani sedang berdiri di atas panggung di dalam ruangan sebuah hotel yang berkelas, menghadiri acara perpisahan SMA dengan perasaan campur aduk. Ia sedikit memicingkan mata, silau dengan sorot lampu yang sedari tadi tidak bergerak menjauh dari tubuhnya yang tinggi.
Dhani berdiri sambil sedikit nyengir, memberi senyum khasnya pada para guru, orang tua, dan teman-teman seangkatannya yang duduk menghadap panggung. Namanya baru saja dipanggil beberapa detik yang lalu. Dhani akan mendapat penghargaan dari sekolah karena sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia memenangkan lomba ataupun olimpiade. Ia sedang menunggu orang tuanya yang dia sendiri pun tidak tahu di mana ayah atau ibunya duduk.
Seharusnya Dhani senang. Ia menekankan itu di dalam batinnya. Seharusnya ia merasa senang dan bangga, karena sekarang hanya ada dia disorot oleh lampu di atas panggung. Tapi suara nyanyian paduan suara dari sudut kanan ruangan menghantuinya. Sejak dulu, Dhani adalah jawara. Tidak di kelas ataupun di sekolah. Ia sudah pernah mengalahkan saingannya di antar kota atau provinsi, bahkan se Indonesia dan tingkat internasional. Tamat SMA mau lanjut ke mana? Jangan tanya. Dhani sudah mendapat beasiswa dalam ratusan ribu dolar Amerika, dan ia sudah diterima di salah satu universitas terkemuka di Negeri Paman Sam itu. Tapi, pernahkah ia berterima kasih untuk semua itu? Pernahkah ada di dalam hatinya rasa menghormati gurunya, yang sudah mendidiknya?
Dulu, ketika masih TK ataupun SD, Dhani tidak pernah merasa harus berterima kasih pada gurunya. Ia tidak tahu apa gunanya ia ke sekolah. Ia hanya tahu bahwa orang tuanya mendaftarkannya di SD favorit, karena memang harus seperti itu. Begitu selesai belajar di TK, orang-orang akan melanjutkan pembelajaran di SD. Itu sudah seperti siklus yang harus diikuti, pikir Dhani. Ia baru tahu bahwa ternyata ada orang-orang yang tidak sekolah saat kelas tiga SD. “Ternyata yang sekolah itu tidak semua orang.” Pikir Dhani saat itu. Namun itu hanya pemikiran ngawur anak-anak.
Sejak kecil Dhani memang cerdas, tapi kepandaiannya dalam mengolah angka dengan cepat dan menangkap pelajaran dengan mudah itu mulai berkembang saat SMP. Dhani melebihi teman-temannya karena ia suka membaca buku tebal. Buku yang seharusnya belum dibaca oleh anak seusianya. Akibatnya, Dhani menjadi lebih tahu. Keingintahuannya semakin bertambah seiring dengan berkembangnya isi buku yang dibacanya. Ia jadi paham berbagai pelajaran dengan buku, internet, dan menonton acara televisi yang semakin menambah ilmunya.
Saat SMA, orang-orang berpikiran bahwa ia tidak lagi perlu menunggu tiga tahun untuk kuliah. Dhani bisa langsung kuliah. Apa gunanya ia menunggu lama, sementara ia mampu. Pelajaran yang dianggap sulit oleh teman-temannya sudah tersimpan lama di dalam otaknya. Ia sudah mempelajari semua materi di SMA. Dhani hanya perlu mengasah kemampuannya dengan banyak latihan. Tapi orang seperti Dhani itu terlalu istimewa.
Biarpun Dhani suka membaca buku biologi yang berbahasa inggris ketika pelajaran matematika, ataupun mengerjakan soal fisika saat pelajaran sejarah, ia tidak pernah sombong pada teman-temannya. Bahkan ia mau berbagi isi kepalanya pada teman-temannya yang belum paham. Tapi sama saja, bahasanya terlalu tinggi untuk dipahami oleh mereka yang mendapat ranking tidak jauh dari kata ‘ranking terakhir’ di kelas.
Dhani? Guru-guru memang menyayanginya, tapi apakah ia pernah menyadari bahwa tidak ada rasa sayang di dalam hatinya untuk guru-gurunya? Seorang murid akan merasa sayang pada gurunya ketika ia merasa gurunya sudah membuat perubahan pada dirinya. Seperti Shinta, anak yang pada mulanya biasa-biasa saja. Meskipun tidak sehebat Dhani, namun ia semakin pandai memecahkan soal-soal fisika rumit yang dulunya terasa gelap baginya. Seorang guru telah membawanya ke luar dari kegelapan fisika. Ia sudah merasa fisika itu mudah, berkat cara mengajar seorang guru. Maka timbullah rasa sayang dan hormat itu dalam diri Shinta. Tidak hanya pada guru fisika itu, tapi pada semua guru yang sudah mendidik dan mengajarkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui.
Berbeda dengan Dhani. Rasa sayang dan hormat itu mungkin tidak pernah ada, karena sejatinya apa yang diterangkan ataupun diajarkan oleh guru di sekolah sudah ia pahami sebelumnya. Jadi, apa yang dijelaskan oleh guru di sekolah tidak pernah mempengaruhi pemikirannya. Ilmunya seolah lebih luas dibanding para guru. Tidak jarang ia berdebat dengan guru jika ada kalimat guru yang dianggapnya bertentangan dengan teori apa atau hukum apalah namanya. Wajar, ia sudah mempelajari banyak hal secara mendalam.
Bahkan pada beberapa guru yang mengajaknya mengikuti lomba, berbagai olimpiade dengan bidang studi yang berbeda-beda. Padahal, jika guru-guru tidak menawarkan, tidak mengajaknya untuk ikut, seorang Dhani hanya akan dikenal di sekolahnya saja. Bukankah karena guru juga, ia dikenal oleh banyak orang? Bukankah karena guru juga namanya menjadi seorang idola di berbagai universitas tempat ia meraih juara? Meskipun ia berhasil karena hasil belajarnya sendiri, tapi sosok seorang guru tetap berperan dalam kesuksesannya sejauh ini.
Saat berbagai pemikiran aneh itu melintas di benak Dhani, kedua orang tuanya sudah menaiki panggung. Mereka bertiga disorot, dan tak lama kemudian kepala sekolah datang memberikan piagam penghargaan pada Dhani. Dhani menyalami kepala sekolah, tersenyum hormat. Kedua orang tuanya juga bersalaman dengan kepala sekolah, berterima kasih.
***
“Selamat Dhan.” Teman-teman sekelasnya merangkul, memeluk, atau sekedar menyalaminya saat Dhani kembali duduk di tempatnya, di deretan teman-teman sekelasnya.
“Tidakkah kalian terganggu dengan suara nyanyian itu?” Dhani tidak menghiraukan teman-temannya yang mengucapkan selamat. Ia hanya menatap sudut ruangan, memperhatikan kelompok paduan suara yang tidak berhenti menyanyikan lagu itu. Padahal Dhani sudah tidak di atas panggung lagi, tapi mereka terus menyanyikan lagu itu.
“Kenapa? Kau terharu karena lagu itu?” Shinta yang duduk di sebelahnya menjawab pelan.
“Ya, tiba-tiba aku merasa berterima kasih. Disaat yang bersamaan, aku juga merasa menjadi murid paling jahat.”
Shinta tertawa pelan di tengah gelapnya suasana. Hanya lampu di sekitar panggung yang dihidupkan. “Kau benar. Meskipun kau merasa guru-guru tidak pernah memberikan ilmu mereka, tidak pernah mengajarkanmu dan menyelamatkanmu dari ketidaktahuan, tapi mereka tetap berjasa untuk kesuksesanmu sejauh ini. Merekalah yang membuatmu ikut serta dalam berbagai olimpiade dan berbagai perlombaan yang kau menangkan itu.” Seperti bisa membaca pemikiran Dhani, Shinta berpendapat dengan suara pelan.
“Kau tahu? Aku sedang memikirkan itu. Dan yang lebih parah, bukankah jika aku tidak bisa membaca, aku tidak akan bisa sejauh ini? Lihatlah, apa kau sadar sewaktu kecil, orang tua ataupun kakak dan abang kita berbicara, membaca nama toko ataupun judul koran, dan kita menganggap huruf-huruf itu seperti gambar yang tidak terbaca. Meskipun sudah pandai bicara, tapi kita belum pandai membaca. Kita mengucapkan ‘ayah’ atau ‘ibu’ tanpa terpikir bagaimana tulisannya, bagaimana huruf-hurufnya. Kita berpikir kumpulan huruf-huruf di papan pertokoan atau tulisan-tulisan di koran seperti sesuatu yang menakutkan, menjengkelkan, dan tidak penting. Tapi begitu masuk SD, kita diajarkan membaca. Mungkin hanya beberapa orang yang seperti ini, tapi begitu pandai melafalkan huruf-huruf, aku langsung merasakan penasaran yang hebat. Setiap duduk di mobil dan diajak pergi ke luar rumah, aku tidak berhenti menangkap tulisan di toko atau bacaan pada spanduk yang terpasang di jalan. Padahal masih membaca dengan terbata-bata. Masih mengeja dengan ‘a-apo-apotek’. Aku tidak peduli kakak dan abangku protes kalau aku ini ribut minta ampun ketika melihat tulisan, karena aku sudah merasa ada hal yang berbeda begitu aku pandai membaca rangkaian huruf-huruf yang dulunya asing bagiku.”
Shinta tertawa begitu penjelasan panjang Dhani berakhir. Ia mempunyai pemikiran yang sama dengan Dhani. Sepertinya awal kesuksesan setiap orang itu adalah ketika mereka berhasil belajar membaca. Seperti sebuah penerang dalam kengerian buta huruf.
“Guru memang bak pelita.” Dhani tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika nyanyian dari sudut ruangan berhenti. Ia merasa bodoh karena sikap dan pemikirannya selama ini. Memang tidak salah bahwa ia lebih banyak tahu karena ia mempelajari semua hal lebih dulu dan tidak mengikuti pelajaran disekolah, tapi ia merasa salah karena tidak pernah memiliki rasa berterima kasih pada guru-gurunya.
Shinta tersenyum, merasa senang ketika menyadari bahwa Dhani mulai menyesal karena telah tidak menganggap keberadaan guru di sekitarnya selama ini. “Penerang dalam gulita.” Sambung Shinta lirih.
“Aku harus menemui guru-guruku dari TK sebelum berangkat ke Amerika. Do’a mereka kan juga seperti tombak dalam pencapaian cita-citaku.”
Shinta menoleh, menatap bingung.
***
Tidak peduli apakah kau sudah di dalam perjalanan menggapai impian, atau baru akan bersiap untuk menggapai cita-cita. Apakah sudah menggapai kesuksesan atau masih akan menuju kesuksesan, selalulah bersyukur atas nikmat Tuhan, yang menjadikanmu seperti sekarang ini. Sayangilah keluarga, yang sudah mendukungmu hingga detik ini. Dan ingatlah jasa guru. Berterima kasihlah pada mereka. Mungkin saja, tanpa untaian kalimat panjang penjelasan mereka di dalam kelas, kau tidak menjadi dirimu yang sekarang ini.

Shinta mengetik semua itu dengan senyuman lebar, jemari yang lincah, dan perasaan semangat yang berkobar-kobar. “Dhani harus membaca ini.” Pikir perempuan itu dalam hati. Tidak lama setelah kalimat-kalimat yang menceritakan kisah Dhani itu selesai, Shinta mengirimkan cerita buatannya lewat e-mail pada Dhani yang entah sedang melakukan apa di negeri orang. Shinta tidak sabar menunggu komentar Dhani jika tahu cerita ini adalah kisah memalukannya yang seharusnya ditutupi.

Usy Izzani Faizti
dipublikasikan oleh  Xpresi Riau Pos
Juni 2013

Friday, December 20, 2013

ANDRE INGIN JADI DOKTER


Andre yang baru saja menginjak usia tujuh tahun berlari-lari di sekitar tempat pembuangan akhir sampah di sebuah pinggiran kota. Ia tidak tahu harus melakukan apa di sana. Ibunya sedang bekerja. Andre tidak tahu, ibunya entah mengumpulkan sampah yang seperti apa dan entah untuk apa barang-barang kotor itu dikumpulkan.
Langit senja menemani Andre yang bermain-main sendiri hari itu. Ini hari pertamanya diajak ke tempat kerja ibunya. Selama ini Andre hanya ditinggal sendirian di rumah kardus dekat pinggiran sungai kumuh. Tidak banyak yang bisa Andre lakukan di sana. Ia anak pertama, tidak memiliki abang atau kakak untuk bermain. Ia juga tidak punya mainan, yang sebenarnya banyak anak-anak seusianya di belahan wilayah lain sedang tertawa ceria tanpa beban karena memiliki banyak mainan dan tempat tinggal yang layak.
“Ayo pulang nak, ibu sudah selesai.” Ajak Ibunya seraya mendekati Andre yang berlari-lari di antara tumpukan sampah. Andre hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengikuti ibunya. Mereka berjalan di trotoar. Jalanan padat oleh kendaraan. Sebentar lagi langit akan menjadi gelap.
“Kita makan apa malam ini, bu?” Andre bertanya polos.
“Andre mau makan apa?” Tanya Ibunya lembut setengah cemas.
“Apa saja, asal makan dengan ibu.” Jawab Andre pelan. Sang Ibu terharu. Ingin rasanya menangis saat itu juga, tapi tidak mungkin.
Malam tiba. Langit hari ini cerah sekali. Andre mendongak, berdiri diam menatap rembulan yang membulat sempurna ditemani oleh beribu bintang yang entah membentuk formasi apa. Ibu Andre melangkah ragu mendekati sebuah tempat makan kaki lima di pinggir jalan. Dengan pakaian yang kumuh, orang-orang yang sedang makan otomatis menoleh, memperhatikannya. Ia tidak menghiraukan orang-orang itu. Untung saja yang menjual nasi tidak mengusirnya. Ibu Andre merelakan sepuluh ribu hasil jerih payahnya hari ini untuk sebungkus nasi, mengisi perut yang sejak tadi pagi belum terisi barang sesuap pun.
Saat Ibunya membeli nasi, Andre hanya duduk menekuk lutut di depan sebuah toko yang sudah tutup sambil terus menatap langit. Tiba-tiba saja pejalan kaki yang lewat melemparkan selebaran uang seribu rupiah kepadanya. Awalnya Andre tidak mengerti. Tapi setelah berpikir keras, ia teringat seorang tetangganya di kawasan kumuh yang pekerjaaannya hanya duduk di depan sebuah pusat perbelanjaan dan orang-orang yang lewat akan memberinya uang. Andre dikira mengemis di depan toko yang sudah tutup ini.
“Hai, siapa namamu?” Tiba-tiba saja ada seorang anak perempuan yang sepertinya sebaya dengan Andre mendekat. Pakaiannya rapi. Rambut perempuan itu hitam, panjang, dan rapi. Ia mengenakan gaun merah muda dan jepit rambut yang cantik. Sedangkan Andre mengenakan baju kebesaran yang sudah robek di sana sini. Rambut Andre juga tidak disisir rapi.
Andre hanya menatap perempuan itu tanpa menjawab apa-apa.
“Namaku Putri. Kamu siapa?” Tanya Putri ramah, tersenyum lebar.
“Andre,” jawabnya ragu.
“Kenapa kamu duduk sendirian di sini?” Tanya Putri lagi.
“Nggak kok. Ibuku sedang beli nasi.”
“Oh...kamu sekolah di mana?”
Mendengar pertanyaan itu ia sedikit tersinggung. Bulan lalu ibunya sudah menjelaskan bahwa belum bisa menyekolahkannya tahun ini. Tapi Andre mengerti. Biarpun usianya masih tergolong kecil, entah kenapa Andre bisa bersikap dewasa. Ia mengerti kondisinya, kondisi ibunya. Bahkan tahun depan saja ia belum tentu bisa sekolah.
“Aku nggak sekolah...” ujar Andre pelan.
Belum sempat Putri menjawab, orang tuanya yang juga membeli nasi sudah memanggilnya. Putri pamit dan berlari mendekati Ayahnya dan segera masuk ke dalam mobil. Andre hanya diam menatap hal itu. Apakah yang berhak mempunyai mobil dan hidupnya enak itu orang-orang tertentu saja?
Andre menghempaskan helaan nafasnya. Beberapa detik kemudian ibunya sudah kembali dengan membawa kantong plastik yang berisi sebungkus nasi. Andre langsung memberikan uang seribu yang didapatnya dan menceritakan bagaimana ia bisa memperoleh uang itu. Ibu Andre hanya tertawa. Mereka berjalan pulang dan begitu sampai, mereka langsung menyantap nasi bungkus yang masih hangat itu. Untuk pertama kalinya, Andre makan enak. Tidak peduli kalau anak-anak lain makan burger, kentang goreng, pizza, atau berbagai makanan berkelas lainnya, bagi Andre, ini saja sudah enak dan harus disyukuri.
***
Andre menangis sejadi-jadinya. Seminggu setelah makan nasi bungkus perdana baginya, ibunya dilaporkan sudah meninggal dunia, menyusul ayahnya. Ibunya ditabrak oleh seorang pelajar SMA yang terlambat berangkat sekolah. Saat Ibu Andre mengorek-ngorek tempat sampah di trotoar jalan raya, anak muda itu sedang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Begitu ia memotong jalan sebuah mobil besar, ia tidak sempat menghindar karena ternyata di depannya ada sebuah mobil sedan. Setir mobil dibantingnya dan menabrak ibu Andre.
Sungguh ironi, Andre menjadi anak sebatang kara. Seorang polisi menyarankan tetangganya untuk membawa Andre ke pantiasuhan. Andre menurut saja. Suaranya sudah serak karena terus berteriak selama beberapa jam. Air matanya juga sudah terasa habis.
Andre kecil disambut hangat oleh pemilik pantiasuhan di tengah kota. Hari pertama ia memang masih tidak mau bicara dan hanya banyak diam daripada bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi hari-hari berikutnya, saat ia berhasil untuk membujuk dirinya sendiri, ia mulai menyatu dengan keluarga besarnya di pantiasuhan itu.
Berselang beberapa bulan, ada seorang pengusaha kaya yang membuat perjanjian dengan pemilik pantiasuhan. Anak-anak yang baru masuk, termasuk Andre, yang belum sekolah, akan disekolahkan pada tahun ajaran baru. Andre senang sekali, meski ia tidak mengerti apa yang diceritakan oleh kakak-kakak yang merawatnya. Ia tidak mengerti apa maksudnya, yang jelas ia akan bersekolah.
“Andre mau jadi apa kalau udah besar?” Tanya Rara, perawatnya.
“Mau jadi dokter...” jawab Andre malu-malu.
“Kenapa?” Tanya Rara lembut.
“Biar bisa ngobatin orang.” Andre tertawa pelan.
Rara ikut tertawa, bangga pada anak yang satu ini. Sejak di pantiasuhan, Andre bisa menonton televisi, hal yang belum pernah dilakukannya sejak ia lahir. Ia banyak belajar, selain mewarnai dan menggambar, ia juga diajarkan membaca Al Qur’an. Andre anak yang pintar, ia berkembang dengan pesat. Saat diajarkan membaca, ia sudah jauh mendahului teman-temannya. Ia bisa membaca buku pelajaran saat satu bulan sebelum hari pertamanya bersekolah.
Tapi, bukankah setiap pertemuan ada hikmahnya? Siapa yang menyangka, bahwa Putri akan kembali bertemu dengan Andre? Andre yang kondisinya sudah jauh lebih baik malah kegirangan, tertawa menyambut Putri dan keluarganya yang berkunjung untuk menyumbangkan banyak hal.
“Putri masih ingat aku nggak?” Andre cengar-cengir.
“Masih. Kok kamu bisa di sini?”
“Nggak ngerti juga kenapa aku diantar ke sini. Nggak penting kan?”
Putri tertawa. “Iya, nggak penting.”
Hari itu Putri dan keluarganya menyumbangkan buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita yang masih layak pakai milik kakak Putri yang sekarang sudah menjadi dokter di sebuah rumah sakit di luar negri. Andre mengambil sebuah buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan membuka halaman pertama. Ada tulisan tangan dengan tinta merah muda di sana. Andre mengeja huruf demi huruf di depan putri.
“Pri...Pris...Prisca?” Andre menatap Putri bingung. Apa itu nama sekolah kakaknya Putri?
“Itu nama kakakku, Kak Prisca. Kakak kuliah ke luar negri begitu tamat SMA dan sudah kerja di sana sekarang.” Jelas Putri.
“kakakmu hebat, ya?”
Putri mengangguk, tersenyum. Ia bangga pada kakaknya.
Saat Putri dan keluarganya pamit untuk pulang, Putri mengatakan, “Aku akan sering-sering main ke sini.” Andre hanya mengangguk, dan kemudian ia berlari ke ruang tengah, tempat semua buku-buku yang disumbangkan diletakkan.
Rara mendekati Andre yang duduk serius membaca buku IPA yang digenggamnya. “Serius sekali bacanya?” Tanya Rara sambil tertawa.
“Kak, Andre serius. Andre ingin jadi dokter, ingin jadi kayak Kak Prisca, yang punya buku ini.”
Rara hanya diam menatap Andre yang matanya sudah berbinar-binar, pertanda ia benar-benar yakin pada impiannya.
***
Sebulan setelah tahun ajaran baru dimulai, Andre berkembang sangat pesat. Ia menangkap pelajaran di sekolah dengan cepat, dan sangat aktif di kelas. Rara juga ikut senang mendengar cerita guru sekolahnya. Tapi sayang, pengusaha yang menjanjikan banyak hal itu terlibat sebuah kasus yang tidak Andre mengerti. Perusahaan bapak itu bangkrut, dan Andre terancam putus sekolah saat masa-masa sekolahnya sudah berjalan selama enam bulan.
“Kak, Andre cari uang sendiri nggak apa ya? Pulang sekolah Andre langsung kerja, terus kalau tiap hari dapat uang kan bisa ditabung, untuk keperluan sekolah.” Ujar Andre yakin pada suatu hari saat sekolahnya libur semester.
Awalnya Rara hanya diam. Setelah dipertimbangkannya bersama pemilik pantiasuhan, Andre diperbolehkan melakukan apa yang ia inginkan. Andre diperbolehkan mencari uang. Duhai, tidak adakah orang kaya di luar sana yang sadar bahwa di sisi lain kekayaan mereka yang tidak terhitung itu ada anak yang sangat membutuhkan uluran tangan untuk menggapai impiannya? Bukan hanya Andre, tapi lebih dari seribu anak yang akan menjadi penerus bangsa beberapa tahun yang akan datang membutuhkan uluran tangan itu.
***
Sepulang sekolah, Andre langsung mengganti pakaiannya dan langsung bekerja. Ia mengikuti apa yang dilakukan ibunya dulu, memulung. Dengan semangat yang membara, di tengah terik matahari siang hari, ia mengumpulkan apa saja yang bisa ia jual kembali. Saat ia merasa lelah, Andre duduk di pinggir jalan, meletakkan sampah yang sudah dikumpulkannya, lalu membuka buku IPA milik kakaknya Putri. Ia minta izin pada Rara agar buku itu menjadi miliknya, bukan milik bersama. Rara memperbolehkan, dan Andre membawa buku itu ke mana-mana. Buku itu dirawat tanpa sedikit tinta pena pun menggores nama Prisca. Andre yakin ia akan bisa menjadi dokter, meskipun banyak hal yang harus ia hadapi.
Begitu ia tidak lagi merasa lelah, ia berdiri dan kembali berjalan menelusuri tempat sampah yang mungkin akan ada banyak barang-barang yang dicari olehnya. Iming-iming menjadi dokter terus saja menguasai pikirannya.
Meskipun ia mengerti tentang bagaimana kehidupannya, impian itu tidak pernah pudar. Sejak pertama kali ia melihat tayangan televisi dan melihat sosok seorang dokter, Andre langsung menetapkan cita-citanya, tujuan hidupnya, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Meskipun Andre belum terlalu mengerti apa saja tugas seorang dokter, yang jelas ia ingin sekali menolong orang, mengobati orang, dan kalau bisa, ia akan memberikan pengobatan gratis pada orang-orang tidak mampu.
“Masih kecil kok udah mikir sampai sana?” Tanya Rara suatu malam sebelum Andre beranjak tidur.
Andre hanya tertawa, lagi-lagi malu karena ditanya-tanya oleh Rara.
***
Uang yang dikumpulkan Andre sudah lumayan banyak. Ia menabung setiap hari, dan Rara terus saja melarangnya karena takut Andre jatuh sakit. Dan benar saja, Andre demam tinggi dua bulan berikutnya dan dibawa ke rumah sakit. Di saat suhu badannya sudah sangat tinggi, ia masih sempat tersenyum menyapa seorang dokter dengan terbata-bata. Rara tak kuasa menahan tangis. Ia ke luar dari ruangan dan membiarkan dokter memeriksa kondisi Andre.

Selesai berobat, Andre merasa kepalanya masih sakit dan berat sekali diajak bergerak. Andre hanya bisa tidur di kasur kamar. Rara sudah memberikan bubur hangat dan meminumkan obat untuk Andre. Andre tidak bisa tidur. Entah kenapa tiba-tiba rasa sedih menjalar di perasaannya, dan ia langsung menangis, reflek teringat ibunya. Andre meraih buku IPA milik Prisca yang sejak awal sudah ada di sebelahnya. Andre menangis sejadi-jadinya. Ia membcara nama Prisca yang tertulis di halaman pertama buku itu. Antara membayangkan wajah ibunya dan membayangkan dirinya menjadi seorang dokter, ia berkata pelan dalam hati, “Do’akan Andre, bu. Andre akan menjadi anak yang sukses dan membanggakan, do’akan Andre bu...”

Usy Izzani Faizti
dipublikasikan oleh Xpresi Riau Pos
Februari 2013

BUKAN ARTI SAHABAT


Sahabat berarti bersama, biarpun berbeda
Satu rasa, biarpun ada perbedaan nada dalam melodi yang mengalun
Saling memiliki, saling berbagi, meski terkadang ego melawan
Satu cita, ingin mengisi kekosongan dan bersama disaat duka walau berbeda tujuan

Nindi meremukkan sebait puisi yang dirobeknya dari buku harian beberapa hari lalu. Ia sedang duduk di sebuah restoran cepat saji dekat sekolah, berusaha damai dengan rasa sedihnya. Saat ini kata sahabat membuatnya sedikit muak.
Apanya yang menghadapi masalah bersama? Apanya yang saling merasakan apa yang dirasakan teman lainnya? Nindi kesal, muak, sudah lelah dengan semuanya. Ia lebih memilih untuk menyendiri membaca buku di perpustakaan selama jam istirahat di sekolah daripada duduk makan di kantin sendirian.
Ia tidak begitu ingat kapan tepatnya kedua sahabatnya itu menjauh, bersikap aneh padanya. Ditanya ada masalah apa, mereka menjawab tidak ada apa-apa. Anjani, sahabatnya yang paling cerewet dan suka menggosip yang sudah dikenalnya sejak sekolah dasar, lebih memilih duduk bersama teman-teman cheersnya daripada dengan Nindi atau pun dengan Dila, perempuan pendiam dan cerdas yang baru mereka kenal di SMP. Mereka masuk SMA yang sama, dan masih sering berdiskusi, bermain, atau menginap sambil bercerita panjang lebar bersama di rumah salah seorang diantara mereka sampai akhir tahun kedua mereka di SMA. Begitu mereka naik ke kelas dua belas, Nindi hanya tidak mengerti kenapa Anjani sedikit menjaga jarak. Anjani lebih sering diam jika pulang sekolah bersama atau duduk makan di kantin bersama Nindi dan Dila.
Sikap diam Anjani yang tiba-tiba tidak bertahan lama. Anjani bersikap terang-terangan diam di depan Nindi dan Dila lantas langsung menjadi Anjani yang heboh dan cerewet saat duduk bersama teman-teman cheers yang baru dikenalnya saat awal masuk SMA.
Lambat laun, Dila lebih suka duduk di pinggiran kelas bersama teman-teman yang tingkat intelektual dan kecerdasannya sama dengannya. Pembicaraan mereka hanya seputaran perkembangan ilmu pengetahuan dan berita-berita umum yang menurut Nindi tidak penting untuk dibahas. Semenjak itu jugalah, Nindi tidak bersemangat bergabung bersama Anjani dan teman-temannya karena ia terlalu norak di sana dan tidak ingin bergabung bersama Dila dan temannya yang lain karena ia selalu saja diam sebagai pendengar sementara yang lain sibuk mengutarakan pendapat masing-masing.
Nindi menghembuskan nafas pelan. Biarpun sudah dapat teman yang sejalan pemikirannya, seharusnya mereka tetap saling menyapa atau sekedar bercerita singkat tentang apa saja. Tapi kali ini tidak. Mereka hanya saling diam, tersenyum tanggung jika bertemu, tidak saling mengajak makan atau belajar bersama.
Nindi menoleh ke luar jendela kaca yang ada tepat di sebelah tempat duduknya. Ia sengaja memilih meja yang ada di sudut. Siapa tahu melihat suasana di luar sana bisa sedikit menenangkan batinnya. Menghilangkan rasa kehilangannya.
“Dila kamu kenapa?”
“Nggak ada apa-apa kok.”
“Ayo cerita ke kami, nggak boleh pendam-pendam sendiri.”
Percakapan-percakapan lama itu terngiang dalam pikiran Nindi. Diam yang tidak berasalan seperti ini justru membuatnya lebih ingin marah daripada jika Anjani atau Dila menceritakan langsung padanya apakah dia ada berbuat salah atau tidak.

Persahabatan itu bukan seperti ini. Ia benar-benar merasa kehilangan, tidak kuat menghadapi apa-apa sendirian meski lambat-laun seharusnya sudah harus membiasakan diri. Ia merasa lemah sekaligus sedih, seperti tidak mempunyai teman untuk menumpahkan semuanya, bahkan rasa kesal pada sahabatnya sendiri.

Usy Izzani Faizti
dipublikasikan oleh Xpresi Riau Pos
Oktober 2012


Friday, November 8, 2013

CERITA FIRA

Kalau dipikir-pikir, ada banyak cerita cinta di dunia ini. Setiap orang memiliki cerita masing-masing. Mulai dari awal bertemu, awal kedekatan, awal perasaan itu menyesak di dada, awal keanehan pada pikiran atau bayangan suara yang terus terngiang dalam pikiran, atau semacamnya. Benar kata salah seorang penulis terkenal yang karyanya sangat kukagumi. Cerita cinta setiap orang berbeda. Biarpun hampir sama, atau mirip sekalipun, perasaan yang ditimbulkan dari setiap cerita sangatlah banyak. Dan jika merenungkan hal ini, rasa sedihku sering kali hilang. Terbawa pemikiran yang mungkin tidak berguna.
Satu lagi, pagi yang harus kusyukuri. Aku masih bisa bernafas, menghirup oksigen bebas di udara meski dengan alat bantu pernafasan. Aku masih bisa melirik ke luar jendela ruang tempat aku dirawat, melihat ujung pohon-pohon tempat burung bertengger yang kicauannya paling merdu bagiku saat ini. Melihat atap-atap gedung bertingkat, yang sebenarnya sangatlah indah jika kubisa memotret dan menyimpannya sebagai kenangan. Tapi, aku tidak bisa.
Mungkin keluarga besarku berharap agar nyawaku cepat diambil, agar biaya pengobatan yang dikeluarkan tidak semakin bertambah. Aku ini anak angkat, dan tidak mungkin akan diperhatikan lebih. Satu-satunya yang sering berkunjung ke tempatku adalah Ifan, laki-laki sebaya yang sebenarnya adalah saudara sepupu bagiku. Tapi karena aku hanyalah anak angkat, jadi Ifan tidak ada hubungan apa pun denganku. Kuanggap dia sebagai teman. Teman penghibur yang senyumnya sangat kusukai.
Ifan adalah pemain basket di sekolahnya. Ia sudah banyak memenangkan berbagai kompetisi di tingkat kota maupun provinsi dan mendapat berbagai macam medali. Aku yang akhir-akhir ini tidak bisa banyak bicara hanya bisa bergumam pelan jika tubuh tingginya sudah memasuki kamar tempatku dirawat. Ia bisa menjadi seorang yang berbeda setiap kali berkunjung. Kerap kali ia menjadi ahli gizi. Dengan wajah yang sok tapi polos, ia menasihatiku agar tidak memakan pantangan dan tidak bolong-bolong meminum obat. Terkadang ia bisa menjadi motivator, berusaha meyakinkanku bahwa aku bisa sembuh. Sembuh dari kanker darah yang kemungkinannya kecil. Entah berapa persen, aku tidak tahu. Tapi karena dia satu-satunya pengunjung selain perawat dan dokter, aku mengangguk saja. Biarpun air mataku ingin sekali ke luar, tapi aku berusaha menahan agar tidak menangis di depannya.
Ifan juga pernah menjadi guru. Ia mengajarkan atau menceritakan ilmu yang baru bagiku. Yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Terakhir aku bertemu dengannya, ia menjadi seorang penceramah. Mengajarkan bahwa Allah memberi penyakit bukan karena membenciku, tapi justru karena sayang. Jika aku bisa bersabar dan tidak mengeluh, katanya pahala yang kuterima nanti sangatlah besar. Aku tidak begitu banyak tahu mengenai ini. Yang jelas, biarpun tubuhku semakin kurus dan melemah, setidaknya jika tiba waktu sholat aku tetap berusaha untuk mendirikannya, walau hanya dengan berbaring dari tempat tidur.
“Selamat pagi tuan putri.” Ifan melangkah dari pintu kamar. Ia datang lagi. Kali ini entah apa yang dibawanya.
Aku berusaha tersenyum, walau menurutku bibirku tidak berhasil melengkung membentuk sebuah senyuman.
“Fir, tante dan om bakalan pulang dari Paris besok. Kita bakalan dapat oleh-oleh banyak tuh ya?” Karena kalimat Ifan, aku baru sadar bahwa Ayah dan Ibu angkatku sedang berada di Paris, menghadiri pernikahan salah seorang adik mereka yang seharusnya kupanggil Paman.
Hampir saja aku bertanya-tanya kenapa bisa Ifan datang sepagi ini, tapi pikiranku langsung menjawab cepat. Hari ini hari Minggu, Ifan tidak sekolah. Gara-gara entah sudah beberapa bulan dirawat, aku jadi tidak ingat masalah hari atau tanggal.
“Oh ya, ini ada bacaan ringan untukmu Fir. Kuharap kau suka.” Ia memperlihatkan sebuah novel padaku. Ia mendekat, duduk di sebelahku dan menghadapkan cover novel itu. Mataku bergantian menatap novel itu dan menatap wajah Ifan yang tersenyum. Itu karyanya sendiri. Novel itu karyanya sendiri?
“Ternyata naskahku diterima oleh penerbit, dan aku langsung setuju untuk mencetaknya. Ini kuhadiahkan untukmu. Kalau senggang, bacalah. Hobi membacamu belum hilang, kan?” Lagi-lagi Ifan tersenyum. Semakin sering ia tersenyum, entah kenapa perasaanku semakin membaik, tapi beberapa detik kemudian rasa sedih menyesakkan dadaku.
Aku membuka mulut, menggerakkan bibir yang pucatnya entah seperti apa. “Kau hebat. Terimakasih banyak. Aku akan menamatkannya secepat mungkin.” Ucapku pelan, nyaris berbisik.
Beberapa jam kemudian Ifan pamit, hendak bermain basket bersama teman-temannya. Aku senang sekali, mengenal orang seperti dia. Kukira tidak ada lagi yang peduli denganku. Tapi kali ini aku tidak takut kesepian lagi. Meskipun sekali dua atau tiga hari, setidaknya dia bisa meluangkan waktunya untuk berkunjung melihatku. Aku tahu jadwalnya sangat padat. Sekolah, kursus, masuk bimbingan belajar, latihan basket, entah apa lagi.
Dengan tenaga yang masih sedikit, aku berencana untuk membaca novel Ifan seharian. Ia berhasil menerbitkan novel pertamanya. Sebelum aku dirawat, dia juga sudah sibuk mengetik naskah dan meminta pendapatku beberapa kali. Saat kubuka halaman pertama, aku tidak menyangka namaku tertera di sana. Untuk Fira, sepupu sekaligus teman terbaik bagiku. Aku senang tanpa ada sebab yang jelas.
Setelah memperhatikan dan membaca kalimat itu berkali-kali, aku mulai membaca bagian ceritanya. Aku sangat penasaran. Dulu, ia seringkali meminta pendapatku tanpa memperbolehkanku membaca naskahnya satu kalimat pun. Tapi kali ini novel ini dipersembahkan untukku.
Tanpa alasan yang jelas, air mataku menetes. Entah ini hanya kebetulan atau disengaja, tapi bagian pertama ceritanya adalah bagaimana pertemuan kami saat masih berumur enam tahun, saat aku baru diangkat menjadi anak Ayah dan Ibuku saat ini. Hal yang membuatku terkejut adalah cara Ifan menceritakannya di novel ini. Ia menjelaskannya seperti pertemuan yang istimewa, yang sangat berarti baginya. Tanpa pikir panjang aku membalikkan halaman ke bagian tengah novel, membaca sebagian isinya. Itu juga tentang awal masa SMA kami. Mungkin novel ini memang bercerita tentang kami berdua?
Saat lewat tengah malam, suara televisi kukecilkan tapi kubiarkan tetap menyala. Kamarku terlalu sepi jika tidak ada televisi. Aku tetap lanjut membaca, tidak mempedulikan berbagai selang yang mulai tertarik atau tidak pada posisinya di bagian tubuhku. Aku memang suka membaca novel, dan Ifan tahu itu. Novel Ifan tidak tergolong terlalu tebal. Saat aku berhasil membaca bagian belakang novelnya, aku kembali merenung. Bagian akhir itu dibuat-buat. Ifan berkhayal aku menemukan sum-sum tulang belakang yang tepat dan berhasil sembuh dari penyakit ini.
Tapi bagian itu tidak begitu penting bagiku. Aku sadar, bahwa ada perasaan lain yang membuatku ingin selalu dekat dengan Ifan. Ingin melihat senyumnya, atau sekedar bertemu sebentar dengannya. Aku sudah mendapatkan jawaban tidak langsung setelah membaca novel Ifan. Tapi aku tidak tahu, apakah ceritaku ini adalah bagian awal, sudah berada di puncak cerita karena keadaanku yang kritis, atau mungkin sudah di bagian akhir cerita karena perasaan Ifan sudah jelas bagiku? Entahlah.

Biarpun aku tidak pernah bertemu Ayah atau Ibu kandungku, aku tetap mencintai dan mendo’akan mereka. Aku menyayangi mereka, meski wajah mereka tidak terbayang dalam benakku. Kira-kira, begitu jugalah perasaanku pada Ifan, laki-laki yang senyumnya manis itu.


Usy Izzani Faizti
dipublikasikan oleh Xpresi Riau Pos
September 2012

MAAFKAN AKU, IBU

Debu jalanan sesekali membuat mataku terpejam dengan refleks karena ada pasir yang beterbangan menerobos ingin masuk ke dalam mata. Cahaya mentari tengah hari terasa sangat menyilaukan dan membuat keringat bercucuran. Aspal terasa panas sekali walau aku sudah menggunakan alas kaki.
Banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan utama tengah kota seperti ini. Jelas saja, ini jam istirahat sholat dan makan untuk mereka yang bekerja di kantor. Aku berjalan di pinggiran pertokoan, menuju sebuah bengkel motor tempatku bekerja.
Saat sedang berjalan di pinggiran toko, aku melihat segerombolan anak SMA yang terdiri dari beberapa orang laki-laki dan seorang anak perempuan lewat, berjalan cepat di trotoar pinggiran toko. Dua diantara mereka ada yang merokok. Aku tidak tahan ingin bertanya, kenapa jam segini mereka sedang tidak berada di sekolah? Tapi aku mengurungkan niat karena jelas saja mereka orang-orang keras yang perkataannya pedas dan sikapnya kasar.
Beberapa menit setelah mereka melintas melewatiku, aku teringat sesuatu. Rasa menyesal itu kembali datang. Penyesalan tiada henti meski aku sudah sempat meminta maaf. Rasa sedih yang mengiris hati, menyisakan perih tak tertahankan. Anak-anak SMA yang baru saja lewat mengingatkanku pada pola hidupku beberapa tahun lalu, saat aku masih menjadi pelajar dari sekolah hebat dan terhormat yang namanya harum di provinsi tempatku tinggal. Aku terlambat sadar, dan menyesal setengah matipun tidak ada gunanya.
* * *
Pagi hari beberapa tahun lalu. Pagi hari saat puncak kenakalanku tak bisa dikendalikan.
“Adi, ini uang sekolah, tolong dibayarkan. Jangan dijajankan.” Ibu mengangsurkan uang seratus ribu tujuh lembar padaku yang hendak berangkat ke sekolah.
Aku yang saat itu masih belum sadar menatap Ibuku sendiri dengan tatapan sinis yang tajam dan tanpa merasa bersalah meneriakinya. “Iya, iya! Adi bayarkan nanti, nggak mungkinlah Adi jajankan. Ibu ni!”
Aku tahu, Ibu tidak akan melawanku. Sebenarnya, sejak awal ia sudah paham aku tidak bisa diatur. Gurat tuanya semakin jelas dan aura kesedihan selalu ke luar begitu saja jika aku sudah berjalan ke garasi dan menghidupkan motor. Motor khusus untuk pulang pergi sekolah. Jelas saja, Ibu pasti berdo’a untuk keberhasilanku di sekolah. Ibu merindukan diriku yang berprestasi dan membanggakan seperti dulu, saat aku masih di SMP. Tapi aku sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Meski batinku masih berbisik untuk kebaikan, aku sudah tidak lagi menghiraukan bisikan itu. Hampir setiap hari, aku meneriaki Ibu, melawan kalimat lembutnya dengan kata makian dan kalimat keras yang kasar.
Ibu hanya menggangguk mendengar jawabanku. Ia terlihat sedih. Saat motorku ke luar dari pagar rumah dan melesat hingga ke ujung gang, wajahnya masih berdiri tegak di ujung pintu rumah. Melepasku yang hendak berangkat ke sekolah.
Motorku melesat kencang di jalan raya. Aku sudah punya rencana besar untuk hari ini. Teman-temanku sudah menjanjikan tempat untuk berkumpul, untuk bersenang-senang. Hari ini aku tidak akan ke sekolah. Uang yang diberikan Ibu sangatlah berguna. Aku sudah banyak berhutang rokok di kedai sana sini, dan teman-temanku juga ingin ditraktir. Apa kurangnya uang tujuh ratus ribu tadi?
Dari balik helm, aku tersenyum-senyum dengan sendirinya. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak aku cabut selama di SMA itu. Guru-guru sudah memperingatkan, dan tidak jarang aku dan teman-teman yang merokok di sekolah tertangkap basah. Mereka hanya menegur dan tidak berani menindak lebih lanjut karena teman-temanku yang terlibat adalah anak-anak bos  yang kalau diancam, mereka akan mengadukan guru itu kepada orangtua yang akibatnya, siswa yang salah dibenarkan dan guru yang benar disalahkan.
* * *
Rutinitas cabut dan merokokku bersama teman-teman terus berlanjut. Ibuku selalu memperingatkan dan memberi nasihat setiap kali aku pulang ke rumah untuk makan dan tidur. “Biaya sekolahmu itu tidak murah, nak... Rajinlah belajar. Ibu dan Ayah memilih sekolah yang berfasilitas lengkap dan ternama agar semangat belajarmu terpacu dan bisa tetap juara kelas seperti dulu.” Aku diam, tidak menjawab. Saat itu, aku paling malas mendengar hal ini.
“Adi... Dengarkan Ibu nak.”
“Mmmm?” Aku hanya bergumam sambil menyuap sesendok nasi di meja makan.
“Buatlah orangtuamu bangga. Ibu sudah capek datang ke sekolah karena kasus yang kamu buat. Ibu malu. Rasanya tidak tahu mau ditaruh di  mana muka ini. Dulu, Ibu bangga sekali datang ke sekolah karena anak Ibu berprestasi, memenangkan berbagai lomba. Tapi sekarang ....” Ibu terhenti di akhir kalimatnya.
Aku menoleh, menatapnya lama. Entah kenapa, rasa sayangku muncul. Rindu akan pelukan Ibu ketika aku masih kecil, kira-kira begitulah rasanya. Jelas saja, aku ini anak tunggal yang terlalu diperhatikan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan mengatakannya dengan bangga pada Ibu. “Oh ya, nilai ulangan Adi ada yang sembilan Bu. Beberapa hari yang lalu Adi ulangan Sejarah, dan nggak nyangka bisa dapat sembilan.” Aku berjalan cepat ke kamar, mengambil kertas hasil ulangan, dan menyodorkannya pada Ibu.
Ibu tersenyum. Saking senangnya matanya berkaca-kaca. Padahal itu hanya ulangan harian yang kebetulan aku duduk di dekat teman yang pandai pelajaran Sejarah. Bahasa kasarnya, aku bisa melihat jawaban temanku dan menyalin penuh semuanya. Biarlah. Untuk sesaat, aku ingin sekali kembali membahagiakan Ibu. Sore itu, semangat belajarku muncul tak tertahan.
Tapi, pada malam harinya rasa malasku terasa lebih tinggi. Aku malas membaca buku dan alhasil aku hanya menonton tv di kamar atau bermain game di laptop. Semuanya masih sama. Kebiasaan cabutku, dan sering mendapat teguran guru. Aku tahu, mereka menegur karena sudah kasihan melihat wajah Ibuku yang malu atau sedih karena perbuatanku yang sudah kelewat batas.
Suatu malam, saat Ayah pulang dari tempat kerja, Ayah memukuli punggungku dengan ikat pinggang tanpa alasan yang jelas. Ia marah-marah tidak menentu dan akhirnya menyuruhku tidur di teras rumah. Aku sudah biasa dimarahi, tapi baru kali ini Ayah memukulku. Sakit sekali rasanya. Mataku sampai berair hingga tengah malam. Di luar, angin malam terasa menusuk tulang. Aku masih terjaga saat Ibu diam-diam membuka pintu luar dan tersenyum aneh menatapku. Aku yang tidak tahu diri langsung menerobos masuk tanpa mengatakan apa-apa. Padahal Ibu yang telah menyelamatkan malam mengerikan di teras rumah saat itu.
Paginya Ayah marah besar pada Ibu tapi aku diam saja. Ini salah satu hal yang kusesali diantara banyak hal yang membuatku menyesal. Aku diam di balik pintu kamar, tidak membela Ibu yang beradu mulut dengan Ayah. Hati kecilku ingin sekali meneriaki Ayah, membela Ibu dengan berbagai alasan. Aku ingin sekali bergabung, berteriak seperti mereka. Tapi, lagi-lagi sifat jahatku menahan.
Semuanya masih berlanjut. Jika tidak ada Ayah, aku masih melawan Ibu hingga ia jatuh sakit. Aku tidak pernah tahu. Ibu menyembunyikan penyakit kistanya dariku. Ternyata Ibu tidak menjalani proses pengobatan dengan serius. Seperti sengaja tidak memilih jalan operasi, seperti sengaja ingin segera meninggalkanku. Itu yang terpikir olehku saat itu.
Di saat yang bersamaan, karena terkejut Ibu dirawat, aku memacu motorku dari sekolah dan ingin tiba dengan cepat di rumah sakit. Akibatnya aku disenggol mobil yang pengemudinya tidak bertanggung jawab. Penyesalanku yang berikutnya adalah, aku ikut dirawat karena kaki kiriku patah dan mengalami perdarahan serius di tangan karena bergesekan dengan aspal. Ibu menangisiku dan Ayah hanya diam, tidak menunjukkan rasa cemas samasekali.
“Ibu, maafkan Adi. Tolong, maafkan semua perbuatan Adi. Adi janji akan berubah, dan membuat Ibu bangga dengan anak Ibu sendiri.” Kalimat itu ke luar dari mulutku dengan isakan kuat. Aku menangis dengan kondisi yang memprihatinkan, menyeret kaki yang patah dengan tongkat. Memegang tongkat dengan tangan yang dibalut karena luka. Ya Allah, kumohon ampuni aku, dan berilah aku kesempatan lagi untuk membahagiakan Ibuku.
Ibu yang terbaring lemas di ranjang tersenyum dengan linangan air mata. Wajahnya pucat, tapi seperti bercahaya. Aku mendapatkan jawaban, aku tidak bisa lagi memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kesuksesanku pada Ibu. Paginya, Ibu menggenggam erat tanganku dan membisikkan kalimat yang tidak bisa kupahami. Ayah dengan cemasnya membisikkan kalimat tauhid pada Ibu. Aku tidak meyangka, Ibu akan pergi secepat itu. Penyesalan dan kesedihan itu sejatinya adalah satu paket yang tidak bisa dielakkan. Rasa sedih dan menyesal yang berlipat-lipat membuatku menangis melepas kepergian Ibu. Ayah menatapku dalam, tidak tahu hendak berkata apa. Saat itu, aku berjanji akan menjadi anak yang sukses.
Aku mengurusi semuanya. Dengan suasana hati yang sendu, aku memandikan dan menjadi imam saat semua keluarga, tetangga, dan beberapa kenalan melaksanakan sholat jenazah untuk Ibu. Aku juga mengurusi pemakaman, meski tidak ikut menggali tanah merah karena kakiku yang masih belum sehat. Sedangkan Ayah? Aku tidak mengerti dan tidak pernah menyangka, Ayah depresi berat hingga mengalami gangguan kejiwaan tanpa sebab yang kuketahui. Saat itu juga, aku memutuskan untuk bekerja. Apa saja, asal bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan untuk pendidikanku sendiri.
Dengan persetujuan Ayah, kami pindah rumah ke rumah yang lebih sederhana. Aku terpaksa mengurung Ayah di sebuah kamar jika aku sekolah atau bekerja sambilan di sore hari. Banyak keluarga atau kenalan yang sesekali datang melihat kondisiku atau pun memberi sedikit uang. Aku pun paham, keluargaku juga hidupnya pas pasan. Sesekali aku menolak pemberian mereka dengan alasan aku sudah mempunyai pekerjaan tetap di sebuah bengkel motor.
Saat lulus SMA, aku memadatkan hariku dengan bekerja dan berusaha menabung untuk bisa lanjut kuliah. Karena terlanjur menjadi anak yang dulunya sering cabut, aku kewalahan mengulang pelajaran dan tidak bisa mendapat nilai yang memenuhi standar untuk beasiswa.
Beberapa bulan setelah kelulusan, salah seorang guruku datang berkunjung untuk melihatku dan Ayah. Awalnya hanya basa-basi, tapi sejak awal aku sudah tahu apa tujuannya. “Ini ada sedikit uang. Bapak berharap Adi bisa membuka usaha sendiri. Ya, misalnya jual bakso atau roti keliling. Roti goreng atau es cendol pun jadi, disamping pekerjaan tetap di bengkel motor. Kalau uangnya sudah terkumpul banyak, barulah Adi lanjut kuliah.”
Kehidupanku yang awalnya susah menjadi sedikit tertolong. Saat ini, aku masih dalam rangka menabung untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Kalau ada peluang beasiswa, aku akan mencobanya. Dengan pekerjaan tetap di bengkel motor dan menjadi tukang roti di sebuah SD, kebutuhan sehari-hariku dan Ayah lambat laun menjadi cukup. Meskipun Ayah masih belum sembuh dari depresi beratnya, aku akan terus berusaha.
Ibu, aku berjanji akan menjadi anak yang membanggakan. Kalau aku sudah berjanji, aku tidak akan mengingkarinya. “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa Ibuku.” Do’aku dalam hati. Maafkan aku Ibu. Kumohon.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Menyisakan rasa sedih berkepanjangan yang tak bisa dielakkan. Bagaikan oksigen yang dibutuhkan untuk pernafasan, kasih sayang seorang Ibu tidak ternilai harganya. Bedo’a dan mohon ampunanNya. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Usy Izzani Faizti
dipublikasikan oleh Xpresi Riau Pos
Mei 2012